Konformitas, berani melanggar aturan karena beramai ramai

 

 

 

 

 

 

tanpa disadari ternyata ilmu psikologi sangat lekat dengan kehidupan kita sehari hari, bahkan bisa dihubungkan dengan perilaku para pengendara roda dua:mrgreen:

bagi anda yang tinggal di jakarta, pasti sering melihat para pengendara yang sedang tertib mengantri tiba tiba semuanya berhamburan ke jalur busway atau naik trotoar hanya karena dipicu oleh 1 orang biker ?😆 dalam konteks psikologi sosial, fenomena itu disebut dengan istilah konformitas😀 karena dalam benak mereka kalau ramai ramai pasti aman:mrgreen: ngaku deh, karena saya juga kadang kadang ngikut😳

Jon M Shepard mendefinisikan Conformity sebagai

“the type of social interaction in which an individual behaves toward others in ways expected by the group”.

atau terjemahannya kira kira ” tipe dari interaksi sosial dimana seorang individu berperilaku seperti yang diharapkan dalam kelompok .”

jadi dalam kelompok yang tidak saling kenal satu sama lain, misalnya sekelompok pengendara roda dua yang sedang mengantri lampu merah, karena dipicu satu orang yang tidak sabar dan menerobos jalur busway, akhirnya semua orang diharapkan berperilaku sama dengan satu orang tersebut, alias ikut melanggar:mrgreen: sama seperti pelaku supporter sepak bola, kalau ramai ramai saja suaranya kencang, kalau sedang sendirian juga 100% ciut nyalinya😆

jenis konformitas :

a. Compliance : konformitas yang  bertentangan dengan keinginan kita, dilakukan untuk mendapat reward atau menghindari hukuman.mungkin kita bukan orang yang suka melanggar lalu lintas, tapi daripada terus dimaki pengendara dibelakang dan terus diklakson, akhirnya ngikut saja melanggar:mrgreen:

b. Acceptance : ada beberapa alasan untuk kita menyetujui perilaku tersebut😆 karena dalam pikiran sudah macet, polusi,panas…akhirnya setuju saja untuk ikut melanggar

kenapa kita memilih melakukan konformitas ?

a. untuk memenuhi harapan para anggota kelompok lain, atau melakukan penyesuaian diri, dalam hal ini karena semua orang melanggar peraturan, akhirnya ikut melanggar peraturan agar tidak dianggap gila oleh orang gila :lol: 

b. Perilaku orang lain memberikan manfaat, melanggar dan tidak ada yang menertibkan…akhirnya belajar bahwa melanggar itu tidak apa apa, tidak ditilang loh, malah lebih cepat sampai karena tidak harus antri di kemacetan

gambar diambil dari blog mbah dukun disini

 


 

 

14 responses to this post.

  1. same browh, polisi dah bohwat ngadepin yg kayak gini.. biasa lah pemicunya krn biker pertama yg kebelet😆

    Reply

  2. Ane banget…😀

    Butuh first mover buat mengawali…

    Reply

  3. yeah tipikal manusia brow, orang akan ikut2an jika ada yang mulai duluan, dan pastinya lambat laun hal tersebut akan menjadi suatu budaya🙂

    Reply

  4. konformitas alias kroyokan, coba sampeyan nanggap pemain jaran kepang tapi seorang aja, terus dia suruh nari berdurasi sama dengan ketika dia pentas ma grupnya, tapi meski seorang bayaran tetep sama misal 1jt, pasti dia ga mau, karena bukan topeng nyemot
    http://jaranwesi.wordpress.com/2011/03/28/cabut-harus-ijin/

    Reply

  5. ini termasuk penyakit sosial bukn?

    Reply

  6. Posted by Dismas on March 30, 2011 at 9:29 am

    Ya kan karena kepepet juga tuh kadang kadang😀

    Reply

  7. Berani karena banyak🙂

    Reply

  8. Reblogged this on Yukiyumerou.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: